Radius: Mati
Radius: km
Set radius for geolocation
post-title Istana Gebang, Rumah Masa Muda Bung Karno

Istana Gebang, Rumah Masa Muda Bung Karno

Istana Gebang, Rumah Masa Muda Bung Karno

Istana Gebang, Rumah Masa Muda Bung Karno

Oleh : Denbei Mardiono-Gudel, Juru Kunci Istana Gebang

Komplex perumahan ini disebut Istana Gebang, seperti nama-nama tempat lain yang pernah dipakai oleh Bung Karno yaitu, Istana Bogor, istana Batutulis, istana Cipanas, istana Tampaksiring. Maka rumah inipun sejak tahun limapuluhan oleh orang-orang Blitar dan media-media cetak maupun lisan pada waktu itu juga menggunakan nama tempat untuk penyebutannya, yaitu Istana Gebang karena terletak didusun Gebang. Tepatnya di jl.Sultan Agung no.59 kelurahan Sananwetan, Kota Blitar.

Rumah ini ditempati oleh Soekarno muda, ketika masih tinggal bersama ayahnya R.Soekeni Sosrodihardjo (dibeberapa buku ditulis Soekemi Sosrodihardjo, 1872-1945) dan ibunya Idayu Nyoman Rai Sarimben (1877-1958). Ayahnya pindah tugas bekerjanya dari Mantri guru Holands Indlansche School (HIS) di Mojokerto menjadi Mantri guru Jongens Normal School (Sekolah guru laki-laki/sekarang SMAN 1 Blitar) pada tahun 1917 dengan menempati rumah dinas Mantri Guru, yaitu sebuah rumah disisi ujung barat kompleks Sekolah Guru Laki-laki tersebut (sekarang menjadi bagian dari Kantor Dinas Pendidikan Kota Blitar.

Rumah pertama (cikal bakal) awal menetap di Blitar

Kepemilikan rumah pribadi orang tua Soekarno atau Rumah cikal bakalnya yaitu sebuah rumah yang terletak disudut tenggara kompleks Istana Gebang dan untuk seterusnya tinggal dirumah induk setelah rumah itu terbeli dari pemilik lamanya seorang Belanda bernama Ch.Portier (Tuan Putir nama yang menurut warga sekitar).

Rumah Induk Istana Gebang

Rumah induk itu dibangun untuk rumah pribadi Ch.Portier di tahun 1884 beriringan dengan pembangunan stasiun kereta api Blitar, karena dia adalah pejabat Staats Spoor (Jawatan kereta api) dan ketika mau pulang ke negeri Belanda rumah itu dibeli oleh keponakan ayah Bung Karno, yaitu R.Kartowibowo seorang pegawai Dinas Pertanian dan selanjutnya diteruskan pembeliannya oleh kakak Bung Karno, yaitu RA.Soekarmini (1898-1984) bersama suaminya yang bernama R.Poegoeh Reksoatmodjo pegawai Dinas Pengairan Malang untuk ditempati orang tuanya bersama Soekarno Muda, karena RA.Soekarmini dan suaminya tinggal di Malang.

Dengan kepindahan ayah-bundanya tersebut, maka Soekarno muda yang saat itu sudah sekolah di Hogere Burger School (HBS) di Surabaya, yang sekarang menjadi Kantor Pos Besar Surabaya dan mondok dirumah HOS.Cokroaminoto (sekarang Peneleh gg.VII), maka setiap libur sekolah atau mengambil uang guna pembiayaan sekolah, uang pemondokan dan uang sakunya sering berada di Blitar.

Sekembalinya dari Blitar juga disempatkan mampir kerumah kakaknya di Malang untuk memperoleh tambahan keperluan sekolah dan uang saku seperti yang diceritakan oleh Bung Karno dalam buku auto biografinya, Bung Karno Penyambung lidah rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adam (1965).

Semenjak menikah dengan bu Inggit Garnasih tanggal 24 Maret 1923 dan juga untuk menyelesaikan studinya, keberadaan Bung Karno di Blitar menjadi semakin berkurang. Apalagi setelah selesai kuliahnya dengan mendapatkan gelar “civil ingenieur” pada tanggal 25 Mei 1926 yang untuk selanjutnya disibukkan dalam kegiatan Perserikatan Nasional Indonesia yang didirikannya tanggal 4 Juli 1927 dan diubah namanya menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada konggres pertamanya di Surabaya tanggal 30 Mei 1928.

Dua tahun tak sempat mengunjungi orang tua di Blitar setelah ditangkap Pemerintah Belanda di Yogyakarta dan ditahan di penjara Banceuy sejak tgl.9 Desember 1929 dengan menjalani persidangan mulai tanggal 18 Agustus 1930 hingga tanggal 22 Desember 1930, meskipun telah menyampaikan pidato pembelaannya yang kemudian hari terkenal dengan istilah “Indonesia menggugat” namun tetap mendapatkan keputusan bersalah dengan vonis 4 tahun dan harus masuk penjara di Sukamiskin Bandung sejak tanggal 22 Desember 1930 yang dikemudian hari memperoleh grasi dan hanya menjalani hingga tanggal 31 Desemer 1931.

Dua tahun dua bulan Bung Karno menjalani kehidupan bebas bersyarat untuk tidak melakukan kegiatan politik, tetapi tidak dipatuhi ksrena kecintaannya kepada kemerdekaan bangsanya sehingga ditangkap kembali dan tanpa melalui proses pengadilan Bung Karno sekeluarga termasuk mertuanya yaitu ibu Amsi dan keponakan ibu Inggit yang menjadi anak angkatnya bernama Retno Djoeami pada tanggal 17 Pebruari 1934 diberangkatkan ke tempat pembuangannya di Ende pulau Flores tanpa diberi kesempatan pamit kepada ayah bunda dan kakaknya di Blitar. Hanya diberi kesempatan bertemu di Tanjung Perak saat kapal hendak berangkat.

Delapan tahun Bung Karno terpisah dengan orang tua, keluarga dan handai taulannya di Blitar. Terpisah dengan rumah yang selalu dirindukannya siang malam selama pengasingannya. Ditambah dengan kesedihannya yang mendalam karena ibu Amsi mertuanya yang sering memberi kekuatan batin untuk menjalani pengasingan ini dengan iklas dan tabah agar menyerahkan sepenuhnya kepada takdir Tuhan, telah wafat di Ende yang harus ditinggalkan karena di tahun 1938 pengasingannya dipindahkan ke Bengkulu.

Memuat…